LGBT: Lajang, Gadis, Bujang, Tingting!

"Mblo, berdua selamanya itu kapan bersatunya?"

PERUT Bendra semakin buncit. Padahal, Syifa-lah yang hamil muda. Tapi, dia selalu punya alibi. "Biar enak mainnya, bass ditaruh di sini," ujar Bendra, seorang pemain bass, seraya membanggakan simbol kemakmuran sejak punya istri yang masak setiap hari untuknya. Syifa menutup muka, malu melihat pria pujaannya melahap pizza di Warung Pasta di Jalan Ganesha, Bandung.

Setelah jalan bareng dua tahun, Bendra dan Syifa akhirnya sepakat menyudahi masa lajang. Tidak lama sejak menyelesaikan kuliah musik, Bendra dari Bandung menikahi Syifa di Sumedang. Tanpa menunda waktu, mereka terbang ke Bali untuk bulan madu. Syifa yang guru biologi pasti tak perlu lagi diajari anatomi tubuh oleh suaminya yang lelaki tulen.

"Waktu itu, perutnya masih rata," kata Syifa, seperti mengeluh. "Perut ini nanti untuk duduk anak kita saat kugendong," sergah Bendra.

Keduanya mengharapkan, seorang anak laki-laki akan lahir dari rahim Syifa. Bendra junior, demikian sementara ini bayi di kandungan Syifa itu dinamai. "Laki-laki atau perempuan, tidak soal. Yang penting: tulen," seru Syifa, mengelus perut.

Ah, betapa bahagia pasangan muda ini. Mereka tidak lagi dikejar-kejar pertanyaan klasik: kapan menikah? Dan, ketika Hari Raya Valentine tiba setiap 14 Februari, Bendra dan Syifa tidak lagi gundah tentang halal atau haram hukumnya merayakan hari kasih sayang. "Sudah pasangan sah!" tegas Bendra. Mau berpesta kasih sayang setiap hari pun sah, sah, sah!

Sekarang, Sandi, Bagus, dan Yudhiz yang masih pusing. Mereka masih terbelit isu sensitif: LGBT! Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender?

Bukan! LGBT yang makin menghantui anak-anak muda ini singkatan dari Lajang, Gadis, Bujang, Tingting! "Serbasalah. Masih jomblo, ditanya kenapa tidak punya pacar. Pas sudah punya pacar, ditanya kapan nikah," keluh Sandi.

Buat Sandi, ini persoalan besar. Dia dan Ayu sudah berpacaran bahkan sejak SMP. "Bukan pacaran sih, tapi sudah saling suka sejak remaja. Pas sudah SMA, baru mulai serius. Putus, sambung, putus, sambung," jelasnya.

Nah, setelah sama-sama lulus kuliah, mereka akan menikah pertengahan Maret. "Sebentar lagi, aku dan Ayu terbebas dari LGBT!" seru Sandi.

Tinggal Bagus dan Yudhiz saja nih yang masih belum jelas. Bendra ragu dengan maskulinitas Bagus. Sebab, selama bergaul di almamater yang sama, Bendra tidak pernah melihat Bagus mempunyai hubungan khusus dengan gadis mana pun. Sejak dekat dengan Nana, Bagus pun jarang jalan bareng "neng geulis" itu. Nana sering mengeluhkan itu pada Syifa dan Ayu.

"Bagus, kalau kamu laki-laki tulen, lamar Nana. Nikahi," tantang Bendra.

"Sering main musik di wedding party sampai lupa menikah ya?" celetuk Yudhiz, sok ikut menghakimi Bagus.

"Sssst, kamu juga masih LGBT. Tidak usah ikut berkomentar," ujar Bendra. Roman muka Yudhiz merah padam. Di antara keempat anak band itu, Yudhiz memang paling tak jelas.

Rekam jejak Yudhiz paling samar. Dia tidak suka membawa pacarnya ke acara kumpul-kumpul anak band. Jika pun sesekali mengajak pacar, Yudhiz menggandeng gadis lain. Tak lagi gadis yang sama dengan yang pernah ia perkenalkan kepada tiga sahabatnya.

"Yang penting, aku tidak jomblo," ujar Yudhiz.

"Tapi, pacarmu bukan buat kedok, kan?" goda Sandi.

Pemusik ternyata tidak setiap saat bicara hanya soal musik. Apalagi jika mereka berada dalam satu band. Soal-soal lain dibahas bersama. Mulai dari yang paling remeh sampai yang paling sensitif. Satu dua kali ada yang terlalu peka sehingga menjadi mudah tersinggung, tapi berulangkali mereka kemudian bisa saling memaafkan dan tertawa bersama lagi. Band menjadi keluarga.

Ketika masyarakat luas ramai bicara soal LGBT, justru kwartet Bendra, Sandi, Bagus, Yudhiz punya definisi sendiri: Lajang, Gadis, Bujang, Tingting! Dan, bagi mereka, tema ini lebih menarik. Senakal-nakalnya anak band, mereka sepakat untuk menjaga keperjakaan masing-masing dan keperawanan calon istri hingga tiba malam pertama yang sah. Mereka juga tidak mau mengganggu istri orang. "Kami tidak akan mengalihkan fokus dari gadis ke mama muda atau tante-tante," kata Bendra.

Lajang untuk bujang, itulah prinsip para musisi muda ini. Tapi, jadi persoalan jika terlalu lama melajang. "Pacaran terlampau lama itu tetap membujang namanya dan itu sama saja menjomblo," ujar Sandi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, lajang artinya sendirian atau belum kawin. Kurang lebih sama artinya dengan bujang, yaitu laki-laki atau perempuan yang belum kawin.

Melajang dan membujang pun sama belaka maknanya yaitu menjadi orang yang belum atau tidak mau kawin. Wikipedia memberi paparan yang lebih luas lagi. Secara harfiah, lajang diartikan sebagai seseorang yang memiliki status perkawinan belum pernah menikah. Status lajang tidak mengenal sentimen gender. Sebutan ini berlaku untuk perjaka dan gadis.

Untuk bujang, Wikipedia melakukan pemaknaan spesifik untuk laki-laki. Bujang atau bujangan diartikan pria yang tidak mempunyai istri. Tapi, bujang belum tentu perjaka. Definisi Wikipedia untuk perjaka atau jejaka adalah bujangan yang belum pernah melakukan persetubuhan. Kamus Besar Bahasa Indonesia lebih halus: laki-laki belum berumahtangga.

Pendakwah ajaran Islam menempuh langkah persuasif dengan berpetuah bahwa perasaan saling mencintai antara laki-laki dan perempuan bisa dicurahkan dengan ta'aruf. Bukan dengan pacaran yang dikhawatirkan bisa menghilangkan keperjakaan, seperti pemaknaan ala Wikipedia. Kehati-hatian ini pula yang mendasari sikap ulama Islam terhadap keinginan sebagian umat Muslim ikut dalam perayaan Hari Valentine.

Salah satu tugas ulama memang menjaga umat, walau pun itu bukan berarti ulama berwenang merenggut kemerdekaan individu. Dalam kaitan dengan lajang dan bujang, setiap gadis dan perjaka selayaknya dapat menjaga kesucian hingga tiba saat berikrar setia; ijab-qabul. Pengantin barunya betul-betul dua sejoli perjaka dan perawan "tingting".

Tidak ada yang salah dengan cinta, tidak ada yang tak benar dengan rindu. Namun, banyak hal menjadi samar sejak dua insan saling jatuh cinta, dan menjadi abu-abu ketika saling merindu. Nah, pada saat itu,  terutama ketika hati mengalami euforia yang menyebabkan akal menjadi tidak sehat, sepasang kekasih memerlukan nasihat, norma sosial, dan ajaran agama, supaya mereka tidak melampaui ambang batasnya sendiri.

Ya, ambang batasnya sendiri. Setiap manusia sesungguhnya punya batas. Namun, tidak setiap manusia sadar apakah ia telah melanggar garis dan sedang menuju marabahaya. Hidup sebagai makhluk individu dan sosial adalah lebih tentang mengingat dan mengingatkan. Sama-sama sering lupa dan lalai, sebaiknya jangan justru saling membantah dan mendebat.
Bandung, 13 Februari 2016
Penulis    : Candra Malik
Editor     : Wisnubrata

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "LGBT: Lajang, Gadis, Bujang, Tingting!"

Posting Komentar