KISAH INSPIRATIF DALAM DUNIA PENDIDIKAN. LULUS DARI MADRASAH SAHRUL PASINGI BERHASIL JADI ENGINEER DI JEPANG.

ASSALAMUALAIKUM. Ini adalah kisah perjalanan hidup dalam pendidikannya yaitu seorang Sahrul Pasingi. Lulus Dari Madrasah Sahrul Pasingi Berhasil Jadi Engineer di Jepang. selamat membaca semoga menginspirasi anda.

Lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Gorontalo 2003 terbang ke Jepang melalui program beasiswa Monbusho atau Kementrian Pendidikan Jepang. Pihak madrasah dan guru-gurunya mencarikan informasi dan membantu proses pendaftaran. Kini ia telah menyelesaikan pendidikan D3, S1 dan S2 di Jepang dan sedang berkarir di salah satu perusahaan komunikasi terkemuka di Tokyo.



Guru-gurunya di MAN Insan Cendekia Gorontalo mengatakan, “Sahrul sekarang sudah mirip sekali dengan orang Jepang.” Mungkin karena ia berada di Negeri Sakura selama bertahun-tahun, lebih dari 10 tahun, dan jarang sekali pulang ke Gorontalo.

Ceritanya panjang sekali sampai akhirnya Sahrul berhasil menyelesaikan pendidikan di Jepang dan berkarir di sana. Menyelesaikan jenjang pendidikan D3, S1 dan S2 di Jepang juga bukan perkara mudah.

Fokus kajian dan keahliannya adalah teknologi wireless. Tugas akhir D3-nya kajian “Cancellation untuk Sinyal CDMA”. Lalu tugas akhir S1-nya masih seputar teknologi wireless yakni “Propagation Channel Teknologi Multiantena.” Sampai jenjang S2, ia fokus pada teknologi wireless communication 4G. Iklim pendidikan di Jepang memang mendorong para pelajar dan mahasiswanya menjadi pakar dan spesialis.

Awalnya, saat masih di MAN Insan Cendekia Gorontalo, ia sering mendengar cerita guru-gurunya tentang kakak kelasnya yang kuliah di Jepang. Ia tertarik ingin ikut kuliah di sana juga.

“Saya ikut seleksi beasiswa Monbusho. Guru-guru saya membantu mencarikan informasi tentang prosedur beasiswa Monbusho, sampai proses pendaftaran pun banyak dibantu oleh pihak MAN Insan Cendekia,” katanya.

Ia memulai persiapan dengan mengerjakan latihan soal-soal Monbusho yang sudah diujikan tahun-tahun sebelumnya. Lalu Sahrur ikut ujian tertulis di Makassar.  Kemudian ia mengikuti ujian wawancara di Jakarta.

“Alhamdulillah saya lulus seleksi, dan berangkat ke Jepang tahun 2004 mengikuti program D3 Monbusho,” katanya. Selalu Ada Jalan
Sahrul menjalani masa kuliah D3 di kampus Hachinohe National College of Technology

Tema tugas akhirnya tentang noice cancellation untuk sinyal CDMA (wireless communication 3G). Setelah lulus D3 tahu 2007 ia ingin melanjutkan setahap lagi ke Jenjang S1.

“Waktu D3, saya merasa tertarik dengan teknologi wireless dan ingin lebih mendalami bidang tersebut. Saya memutuskan untuk mencoba lanjut ke S1 di universitas,” katanya.

Namun untuk melanjutkan S1 tentu perlu biaya yang tidak sedikit. Waktu itu, kata Sahrul, uang masuknya saja setara dengan 125 juta rupiah, belum lagi biaya hidup sehari-hari. ““Mustahil bisa bayar sendiri,” katanya.

Selalu saja ada jalan. Ia mengajukan permohonan perpanjangan beasiswa Monbusho. “Namun Syaratnya, nilai selama kuliah D3 harus A  semua atau  juara 1 atau minimal juara 2 di kelas yang isinya orang Jepang dan kuliah pakai bahasa Jepang. Ini yang dirasa paling berat. Namun bukan Sahrur namanya kalau mudah menyerah.

“Alhamdulillah rejeki, dapat perpanjangan beasiswa, dan diterima juga di universitas tempat saya ingin melanjutkan studi,” katanya.

Ia menamatkan S1 di University of Electro Communication. Tugas akhirnya tentang propagation channel teknologi Multiantena (teknologi wireless communication 4G).

Setelah lulus S1 tahun 2010, ia masih ingin belajar lagi. Ia mencoba melanjutkan studi S2  di bidang yang sama. Namun syarat perpanjangan beasiswa Monbusho ke S2 lebih berat lagi, yaitu ia harus mendapatkan nilai tertinggi diantara penerima beasiswa Monbusho lain.

“Kali ini saingannya lebih jago lagi. Salah satunya adalah kawan sendiri, salah satu wakil Indonesia di Olimpiade Fisika Asia tahun 2002. Saya ketemu beliau pertama kali di olimpiade fisika itu, dan sampe sekarang jagonya nggak luntur-luntur,” katanya tertawa.

Sadar dengan kemampuan sendiri dan sambil membaca peluang, ia kemudian mencoba mencari sponsor beasiswa di tempat lain dan … “Alhamdulillah, Allah kasih rejeki lagi lewat SISF (Sato International Scholarship Foundation),” kata Sahrur.

Ia menempuh pendidikan S2 di University of Electro Communication, masih di bidang dan fokus yang sama. Tema tesisnya tentang propagation channel teknologi Multiantena (teknologi wireless communication 4G).

Bersyukur Bisa Belajar di Madrasah
Sahrur lahir di Gorontalo, bulan Mei 1985. Ayahnya bernama Hamdun Pasisingi, dan ibunya Ratna Hulukati. Pekerjaan orang tuanya adalah guru Pegwai Negeri Sipil (PNS). Mereka tinggal di Kabila, Bonebolango, Gorontalo.

Ia menamatkan pendidikan dasar di SDN Tumbihe, lalu berlanjut di SMP 1 Kabila, masih di wilayah Gorontalo.

Saat di SMP itulah ia mendapat informasi dari gurunya kalau ada sekolah unggulan yang baru dibangun di tanah kelahirannya Gorontalo. Namun susah untuk bisa masuk sekolah ini karena seleksi cukup ketat. “Saya mencoba dan alhamdulillah diterima,” katanya.

Sejak di Insa Cendekia, Sahrur sudah mengatur jam belajar dengan baik, dan sangat membantu ketika ia berada di Jepang yang menerapkan disiplin waktu cukup ketat.

“Di Insan Cendekia Gorontalo, saya berusaha sebisa mungkin mendengarkan baik-baik penjelasan guru di kelas. Kalau materinya terlalu sulit, minimal ngerti garis besarnya saja, sisanya ntar di baca lagi,” katanya.

Saat jam bebas, pukul 16.00 sampai 18.00 WITA, ia manfafatkan betul untuk menikmati hobi. “Saya main gitar, ngobrol dengan kawan-kawan, atau main di lab komputer. Kadang main voli atau sekedar jalan keliling lapangan tanpa tujuan. Atau terpaksa mencuci pakaian kalau cucianudah numpuk,” katanya.

“Di asrama IC pada pukul 20.00 sampai 22.00 WITA saya menggunakan jam belajar mandiri untuk membaca kembali materi di kelas yang dirasa kurang jelas. Atau saya pakai buat latihan menjawab soal-soal matematika, fisika, kimia, biologi. Kalau ada kawan yang minta diajarin, saya coba jelaskan dengan cara saya sendiri sekalian buat mengecek kalau saya sudah paham betul atau tidak,” tambahnya.

Ia merasa beruntung bisa mendapatkan kesempatan belajar di madrasah. Ia mempunyai kesempatan yang jauh lebih banyak dibandingkan teman-teman di sekolah umum untuk mengenal Sang Pemilik Ilmu Allah SWT, katanya.

Ini juga yang dipesankan Sahrul kepada adik-adiknya yang sekarang sedang belajar di madrasah. “Pertama, syukuri bahwa adik-adik bisa menenuntut ilmu madrasah,” katanya.

“Kedua, mulailah mencoba membuat visi hidup kedepan dari sekarang, supaya adik-adik akan punya standar yang jelas untuk menentukan langkah-langkah nanti, seperti saat memilih bidang yang akan ditekuni saat kuliah, bekerja dan seterusnya. Tentu visi ini pun bisa adik-adik ubah sesuka hati, yang terpenting adalah ‘punya’ visi-nya dulu,” katanya.

Sahrul berasal dari daerah yang sama dengan tokoh yang dikaguminya B.J. Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia yang juga menjadi pelopor pendirian Insan Cendekia.

“Saya sangat mengagumi Bapak BJ Habibie sebab beliau adalah sosok teknokrat yang sukses di bidangnya, sekaligus sosok negarawan yang tulus berkarya untuk memajukan bangsa dan negaranya. Sepak terjang beliau adalah inspirasi buat para teknokrat dan para calon teknokrat Indonesia,” katanya.

Tertarik Industri Komunikasi
Saat ini Sahrur tinggal di Kawaguchi, Saitama-pref, Jepang. Ia bekerja sebagai Engineer di NTT Communications Corp Tokyo. Ia belum membuat planning lebih jauh karena sedang fokus meniti karir di perusahaan tempat bekerja sekarang.

Banyak hal yang menyebabkan ia memilih belajar dan berkarir di Jepang. Pertama karena negara ini terkenal dengan kemajuan industri elektroniknya, dan ia merasa tertarik ingin menekuni bidang tersebut.

“Saya pun memlilih berkarir di Jepang karena saya merasa ada peluang untuk menerapkan ilmu yang saya tekuni, serta dapat menimba pengalaman bekerja di lingkungan budaya orang Jepang,” katanya.

Dalam hal pendidikan, dibandingkan dengan Indonesia, secara umum materi pelajaran lebih di Jepang lebih fokus dan proporsi membahas konsep lebih banyak dibandingkan latihan soal.

Dalam hal karir, di Jepang dituntut untuk disiplin waktu, sehingga ia terbiasa bekerja di bawah tekanan dan dengan jam kerja yang relatif panjang.Tapi penghargaan atas kinerja sebanding dengan kerja keras yang sudah dilakukan.

Ia bercerita, menjelang akhir masa studi ia mencoba berpikir kembali tentang apa cita-citanya sebenarnya.

“Ada dua jalan yang bisa ditempuh setelah S2. Jalan pertama, lanjut S3 jadi ilmuwan, peneliti atau dosen. Jalan kedua, terjun ke dunia kerja, jadi engineer di perusahaan Jepang. Saya memilih jalan kedua karena merasa lebih pas dengan cita-cita saya,” kata Sahrur..

“Mulailah saya ikut seminar-seminar di perusahaan-perusahaan Jepang. Di Jepang banyak sekali pilihan tempat kerja, perusahaan-perusahaan tersohor, seperti Toyota, Nissan, Mazda, Honda, Sony, toshiba, hitachi, fujitsu NEC, sharp dan seterusnya. Mereka membuka peluang besar untuk para calon fresh graduate,” katanya.

Ia sendiri lebih tertarik dengan industri telekomunikasi karena sejalur dengan bidang yang ia tekuni sewaktu kuliah. Ia bertemu dengan NTT Communications, anak perusahaannya NTT, grup perusahaan telekomunikasi terbesar di Jepang. Perusahaan ini sedang gencarnya membuka peluang masuk pegawai asing dalam rangka memacu expansi globalnya.

“Karena tertarik dengan peluang bekerja di perusahaan multinasional, saya pun mencoba melamar , ikut seleksi (ujian berkas, tertulis, wawancara) dan alhamdulillah diterima,” ujarnya.

Meski sudah menjalani “masa kemapanan” di Jepang, Sahrul masih berpikir akan pulang dan berkarir di Indonesia. “Saya punya rencana pulang ke Gorontalo dan membuka lapangan kerja baru sekaligus menerapkan ilmu dan pengalaman yang saya dapat selama berada di Jepang,” pungkasnya. 


Semoga Artikel ini dapat menginspirsi bapak dan ibu dalam memotivasi siswa dan siswi kita.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KISAH INSPIRATIF DALAM DUNIA PENDIDIKAN. LULUS DARI MADRASAH SAHRUL PASINGI BERHASIL JADI ENGINEER DI JEPANG."

Posting Komentar