KONSEP, KESIAPAN SEKOLAH DAN GURU HARUS MATANG SEBELUM 8 JAM DI SEKOLAH

Perlahan tapi pasti, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Dr Muhadjir Effendy mulai menggulirkan program barunya Full Day School (FDS). Rencana itu tampaknya tetap berjalan terlepas  dari  masih adanya pro kontra yang terjadi di tingkat bawah.

Image result for full day school


Sinyal ke arah itu sudah ada, yakni aturan yang mewajibkan guru-guru yang sudah berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun guru-guru swasta yang sudah mendapat tunjangan profesi untuk berada di sekolah selama delapan jam.  Aturan baru tersebut mulai diberlakukan tahun 2017 mendatang.

Aturan tersebut juga langsung berlaku secara nasional, sehingga berlaku juga bagi guru-guru yang tinggal di pedalaman. Sementara itu guru-guru yang masih berstatus GTT belum diwajibkan memenuhi aturan tersebut. Prof Muhadjir sendiri mengakui, aturan baru itu memang bersentuhan  dengan wacana kebijakan FDS. Hanya saja, FDS nantinya akan digulirkan  dengan nama lain.

Semakin jelas bahwa pemerintah sudah bulat pada pandangan bahwa FDS menjadi satu-satunya kebijakan yang dinilai paling baik untuk meningkatkan karakter anak didik. Terlepas dari kesiapan konsep, pembiayaan, kurikulum dan kesiapan para guru, rencana FDS tetap melaju.

Aturan baru tersebut memunculkan beberapa pertanyaan, misalnya, dalam waktu dua bulan hingga akhir 2016 ini, sudahkah dilakukan persiapan komprehensif dari pusat hingga pelosok dareah. Menahan guru untuk tinggal di sekolah selama delapan jam mungkin bukan persoalan sulit bagi guru-guru di kawasan perkotaan.

Namun  apa  yang akan dilakukan  seorang guru di pelosok Papua misalnya,  berada di sekolah selama delapan jam jika tak disiapkan konsep  dengan matang? Alih-alih meningkatkan keterampilan dan karakter siswa, bisa jadi para guru justru gagap menggunakan waktu. Belum lagi, di daerah pedalaman guru dan siswa masih dihadapkan pada minimnya transportasi.

Ada yang sedikit terlupakan, bahwa pendidikan karakter tidak selamanya harus dilakukan di sekolah. Melainkan dapat diperoleh dari siapun dan di manapun. Seorang pengemis di jalanan bahkan bisa menjadi media mengajarkan anak untuk menghormati orang lain, mengajarkan anak agar suka membantu sesama. Membantu orang tua di rumah selepas sekolah sebenarnya juga praktik pendidikan  karakter yang sesungguhnya. Anak-anak di pedalaman bahkan sudah melakukan sebelum sang guru mengatakan “kalian harus membantu orang tua”.

Kearifan lokal semacam inilah yang sebenarnya menjadi sumber dari pendidikan karakter dan budi pekerti. Dan mulai 2017 mendatang, anak-anak akan dicerabut dari akarnya untuk masuk dalam tembok sekolah sehari penuh atas nama “pendidikan karakter”. Sebagai langkah awal, guru wajib tinggal di sekolah selama delapan jam.

Sudahkah guru-guru dan sekolah  dibekali konsep dan skill yang memadai agar mereka kehabisan  nafas di tengah jalan? Agar mereka tak hanya bengong menunggu waktu pulang  sekolah?

Sekali lagi, tidak ada yang tidak baik dari program pemerintah, termasuk FDS. Persoalannya, realisasi dari program tersebut memerlukan persiapan matang agar ke depan program itu tidak setengah matang dan terbengkelai ketika masa jabatan Sang Menteri sudah berakhir.

Apalagi di luar itu, masih ada persoalan terbengkalai, yakni dualisme antara kurikulum 2013 dan KTSP. Mau diapakan tinggalan kebijakan Mendikbud sebelumnya ini? Atau dilupakan  saja, meski di tingkat bawah masih dilanda kebingungan? 
Sumber: joglosemar.co

Demikian info ini kami sampaikan semoga bermanfaat untuk anda dan terimaksih sudah mengunjungi laman kami...
Silahkan di share...

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KONSEP, KESIAPAN SEKOLAH DAN GURU HARUS MATANG SEBELUM 8 JAM DI SEKOLAH"

Posting Komentar