Kasihan… Guru Honorer Asal Cibitung Ini Tanya Tunjangan, Eh Malah Dipecat

AIR Susu Dibalas dengan Air Tuba’, pribahasa ini sepertinya mewakili perasaan Anita Rachayu Eka Handayani, salah seorang guru honorer yang mengajar di SDN Wanasari 8 Cibitung Kabupaten Bekasi. Selama 11 tahun mengabdi menjadi tenaga pendidik, bukan penghargaan yang diterima. Namun sebaliknya, pemecatan yang dia dapat.

Kepada Radar Bekasi (Grup gobekasi.co.id), wanita yang pernah menyabet guru teladan ini mengakui, selama ini menjadi guru honorer hanya mendapat upah sebesar Rp500 ribu setiap bulan. Meskipun pemerintah memberikan beragam tunjangan mulai dari Bansos, Honda, Tufung, Tukul dan yang saat ini adalah Jastek. “Selama ini saya gak pernah dapat tunjangan itu. Saya sih sempat denger jika pemerintah memberikan tunjangan, tapi saya tidak pernah menerimanya,”katanya kepada.

(Ilustrasi) Guru Honorer Kabupaten Bekasi. (Foto: Radar Bekasi)

Dia pun menyayangkan sistem pendidikan, khususnya yang ada di UPTD Cibitung kabupaten Bekasi. Bahkan peraturan yang ada pun dirasa sangat janggal, tidak sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Ketia dia mencoba kritis terhadap kebijakan, namun makian dan umpatan yang selalu diterima.

“Ketika saya menanyakan keresahan saya kepada pimpinan saya, saya di marahi, Kalau kamu tidak suka dengan peraturan saya silahkan buat surat resign. Bingung saya jadinya, Ketika saya tidak memasalahkan soal honor, saya disindir, ‘Kamu tidak rasional!. Dan ketika saya bicara soal honor , saya dibilang tidak tulus dan komersial!. Selama ini saya memilih diam,” terangnya.

Karena aspirasinya selama ini tidak pernah di dengar, dia pun melakukan komunikasi dengan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin. Tanggal 1 Juni 2017 lalu, dia pun kembali mengingatkan orang nomor satu di Kabupaten Bekasi ini untuk memperhatikan kesejahteran tenaga pendidik di Kabupaten Bekasi.“Dan alhamdulillah mendapat respon yang baik dari ibu bupati.” imbuhnya.

Namun sayangnya, keresahan yang disampaikan oleh Eka justru menyulut geram bagi Kepala UPTD Cibitung dan Jajarannya. Lalu, pada 05 juni 2017 mendadak mengadakan pembinaan terhadap guru di SDN Wanasari 08 Cibitung.

“ Yang membuat aneh, saat pembinaan berlangsung semua gawai dikumpulkan di kardus.. Mereka menjanjikan ABT yang akan cair untuk guru honor yang belum dapat jastek. Mereka suruh saya bersabar lagi sambil menunggu giliran. Saya terima keputusan itu,”terangnya.

Namun sayangnya, beberapa hari setelah rapat tersebut dia justru mendapat surat pemecatan dari kepala sekolah.

”Memang waktu rapat tersebut, ketika saya ke dapur sekolah secara tidak sengaja saya mendengar percakapan seorang pegawai UPTD menemui kepala sekolah meminta kepala sekolah untuk mengeluarkan saya. Saya ingin menanyakan hak dan nasib saya, tapi justru di pecat,”ungkapnya.

Dia mengaku, tidak mempersoalkan pemecatan tersebut. Dia merasa ikhlas dan tidak ingin kembali lagi menjadi guru honorer. Namun yang disesalkan, sistem pendidikan yang ada di UPTD Cibitung dinilai sangat amburadul. Dia berharap, Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi bisa merubahnya.

”Saya tulus ingin memajukan pendidikan di Kabupaten Bekasi, tapi apakah caranya harus dengan kecurangan?. Saya juga sering dengar dari teman-teman yang menerima tunjangan, bahwa tunjangan yang mereka terima sebelumnya harus dipotong oleh UPTD,”terangnya.

Dia berharap, pemerintah Kabupaten Bekasi mengevaluasi kinerja jajarannya khususnya ditingkat UPTD Pendidikan.

”Saya sangat berharap Bupati Bekasi bisa melihat langsung kondisi kebusukan ditingkat UPTD. Kalau kondisinya seperti ini, wajar saja jika pendidikan di Kabupaten Bekasi selalu tertinggal, karena dipengaruhi oleh sistem yang tidak wajar. Program pemerintah sangat bagus, tapi sayangnya dirusak dijajaran tingkat bawah,”tegasnya.

Sementara itu, ketua Advokasi Tenaga Honorer mengaku akan membawa masalah tersebut ke Komisi Nasional hak Asasi manusia (Komnas Ham) dan ke kepolisian. Pria yang juga sebagai Direktur Komite Aksi Mahasiswa dan masyarakat peduli Sosial ini, akan membuka posko pengaduan di setiap kecamatan di Kabupaten Bekasi.

“Saya sangat yakin, banyak honorer yang diperlakukan tidak adil. Maka dari itu, saya akan membuka posko pengaduan di setiap kecamatan. Praktik kecurangan dan ketidakadilan ini harus segera dihentikan,”tandasnya.

0 Response to "Kasihan… Guru Honorer Asal Cibitung Ini Tanya Tunjangan, Eh Malah Dipecat"

Posting Komentar