Jadi Lulusan Terbaik Untidar, Anak Penjual Sate Ini Mau Bangun Perpustakaan

Awalnya, Muh Jalaluddin hanya berniat jualan sate saat menghadiri acara wisuda anaknya, Siti Marfuah, di Universitas Tidar (Untidar) pada akhir pekan lalu (14/10/2017). Tetapi, sate yang dibawa Jalaluddin dari rumah akhirnya dibagi-bagikan secara gratis. Pasalnya si buah hati tidak hanya sekadar dipanggil sebagai wisudawan di Prodi Akuntansi, Program Diploma, Fakultas Ekonomi, tapi sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,87 dari 220 mahasiswa Untidar pada wisuda periode Oktober 2017.



Siang itu, Jalaludin sengaja membawa gerobak satenya ke kampus Untidar. Selain hadir sebagai undangan acara wisuda, dia sekaligus berjualan. Jalaludin ditemani istrinya, Satuna, serta empat anaknya yang lain. Namun, niat berjualan Jalaludin mendadak sirna setelah mendengar kabar bahwa Siti menjadi wisudawan terbaik. Saking gembiranya, Jalaludin membagi-bagikan sate dagangannya secara gratis kepada siapa pun yang berada di kampus Untidar saat itu. Tak terkecuali para dosen, tamu undangan, dan wisudawan lain. Rektor Untidar Prof. Dr. Cahyo Yusuf M.Pd pun kebagian. Tak ayal, satu gerobak penuh sate dan lontong ludes dalam sekejap.

“Saya sehari-hari memang berjualan sate keliling. Kalau ibunya Siti berjualan sate di Pasar Payaman,” kata dia kepada Jawa Pos Radar Jogja (FAJAR Group)

“Sejak SD, Siti bisa cari biaya sekolah sendiri. Bisa kuliah tanpa merepotkan orang tuanya saja sudah alhamdulillah, apalagi dia jadi lulusan terbaik,” kata Jalaludin.

Bagi Siti Marfuah, pencapaian ini tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya. Sebab, untuk dapat melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi saja, Siti perlu berjuang selama 5 tahun setelah kelulusan SMA-nya.

“Kumpulin biaya dulu dengan kerja apa adanya. Mulai dari nge-les-in anak SD, SMP sampai SMA. Bantuin bikin kue tetangga, jualan buku, jemput anak les atau jasa beliin barang,” ungkap Siti.

Siti menjelaskan, penghasilannya pun tidak menentu, mulai dibayar Rp 2000 setiap satu kali datang untuk 1 kali pertemuan les atau Rp 5000 tiap 3 kali pertemuan.

“Dulu satu bulan hanya dapat 100 ribu saja, tapi sekarang alhamdulillah, berkat orang tua murid mempromosikan les dengan Siti ke orang tua lain jadinya pendapatan sudah lumayan ya cukup untuk biaya kuliah bahkan bantu berbenah rumah sedikit demi sedikit,” tambahnya.

Siti tinggal di Jalan Buton Cemara RT 03, RW 04, Kedungsari, Magelang bersama orang tuanya, Muh Jalaludin dan Satuna, serta empat saudaranya. Dalam kesehariannya, walaupun sudah cukup sibuk dengan kuliah atau kerja, Siti masih bisa mengantar dan menjemput ibunya yang setiap pagi harus menjajakan jualan.

“Siti tidak pernah meminta, malah Ibu yang diberi. Semoga Siti bisa cepet dapat kerja tetap setelah lulus,” harapnya.

Kelahiran Sampang, 21 Juni 1991 ini dikenal sebagai pribadi yang pintar, ulet dan percaya diri di kalangan teman kuliahnya. Peraih juara 3 Lomba Debat Bahasa Inggris tingkat universitas ini mengaku tidak pernah malu dengan keadaannya. “Tidak malu, jalani aja, lulus kuliah trus dapat kerja tetap, fokus,” ujar Siti di laman resmi Untidar.  Siti saat ini sedang mengambil kursus Bahasa Jepang selagi menunggu mendapat panggilan dari lamaran pekerjaan yang dia kirimkan. Menjadi wanita karier merupakan target jangka pendeknya. Kedepan, dia ingin mendirikan usaha sendiri dan membangun sebuah perpustakaan di mana semua orang biasa membaca gratis.
Sumber: fajar.co.id
loading...

0 Response to "Jadi Lulusan Terbaik Untidar, Anak Penjual Sate Ini Mau Bangun Perpustakaan"

Posting Komentar